Menyapa Kabut Rinjani

Oleh Putu Angga Bujana

DCIM109GOPRO

Untuk temanku, Zizi dan William. Serta Mas Santos, Mas Jun, dan Mas Andi, sahabat yang kami temui di tengah perjalanan menggapai Rinjani.

Gunung Rinjani, 3726 meter di atas permukaan laut.

Puncak Dewi Anjani. Danau Segara Anak. Rinjani. Salah satu gunung tujuan para pendaki Indonesia. Konon katanya gunung tercantik di Nusantara. Bahkan tamunya tidak hanya domestik, melainkan juga dari mancanegara. Aku pun tidak ingin ketinggalan untuk merasakan keindahannya langsung. Setelah rencana ini lama tertunda, akhirnya tiba juga kesempatan merasakannya pada bulan April 2015. Bersama dua orang kawan yang kelak menjadi lima, aku ingin menulis ulang perjalanan kami mencumbu Dewi Anjani.

Bertolak dari Bandara Juanda Surabaya tanggal 18 April pukul 05.00 pagi, kami bertiga yang setengah terkantuk terbangun oleh guncangan pesawat saat mendarat kurang mulus di Bandara Internasional Lombok. Setelah bertanya sana-sini akhirnya kami melanjutkan dengan Damri jurusan Masbagik yang dihargai 35.000 rupiah. Sepanjang perjalanan kami tertidur. Maklum, semalam kami tidak sempat tidur cukup karena mempersiapkan perlengkapan. Sampai di Terminal Masbagik, kami sarapan, membeli beberapa logistik yang kurang, serta bertanya (lagi) kendaraan termurah menuju Sembalun, desa yang menjadi pintu masuk Taman Nasional Gunung Rinjani. Dan kami cukup beruntung bisa ikut dengan pick up yang mematok tarif 110.000 rupiah untuk tiga orang. Tak hanya kami yang naik, tiga orang pendaki serta beberapa warga yang ingin pulang ke Sembalun turut mengisi pick up. Perjalanan yang kami tempuh sekitar dua setengah jam. Setelah registrasi di kantor Taman Nasional, tiga pendaki yang bersama kami menumpang pick up turun, namun berganti dengan tiga orang pendaki lain. Kelak kami berenam akan selalu bersama hingga puncak.

Pendakian Dimulai

Pukul 15.30 pendakian dimulai. Awal trek terasa masih ringan karena masih menyusuri persawahan. Hingga akhirnya memasuki trek savanna yang agak menanjak.

1-mendung-saat-awal-pendakian
@anggabujana – Dirundung Mendung Savanna Sembalun

Entah kenapa tenaga terasa terkuras. Carrier di punggung terasa menekan dengan sangat. Sepanjang perjalanan cuaca mendung. Tampaknya baru malam kami bisa mencapai Pos 3. Walau pun begitu kami cukup menikmati perjalanan. Savanna Sembalun sangat indah, sayang kami menjelajahinya mulai sore, sehingga kemegahannya dirasa kurang. Menjelang senja kami memutuskan beristirahat agak lama di Pos 2. Matahari semburat keunguan, pertanda malam akan datang.

2-menjelang-senja-di-savana
@anggabujana – William Menangis Menjelang Senja di Rinjani

Setiba di Pos 2 kami berenam beristirahat makan malam. Mas Andi menawarkan Buras, makanan khas Makassar. Jarum jam menunjukkan pukul 18.00, dan keadaan sekitar sangat gelap. Setelah santap malam, secangkir kopi hangat terasa sangat nikmat di tenggorokan. Sebelum melanjutkan perjalanan menuju Pos 3, kami bertemu rombongan tamu Malaysia yang hendak turun. Acuh tak acuh, kami melanjutkan perjalanan di tengah gelapnya malam menuju Pos 3. Medan semakin menanjak, dan nafas semakin menghentak. Lutut bergetar. Namun syukurlah kami tiba di Pos 3 pukul 21.00 malam. Tanpa banyak bicara kami mendirikan tenda lalu tidur. Besok akan menjadi hari yang panjang.

4-senja-di-savana
@anggabujana – Matahari Hilang, Malam Menjelang Datang

Pagi hari ternyata cuaca sangat cerah. Bahkan segerombolan monyet terlihat di dekat area kami berkemah. Setelah sarapan kami bersiap berangkat menuju Plawangan Sembalun. Tentu saja kami sudah ditunggu trek paling terkenal di Rinjani: tujuh bukit penyesalan.

6-masih-di-pos-3.jpg
@anggabujana – Bukit Penyesalan, Siapakah Anda?
5-pagi-yang-cerah-di-pos-3-rinjani-di-kejauhan
@anggbuajana – Rinjani Menantang Dengan Angkuh

Namanya memang bukan sekadar isapan jempol. Walaupun hari ini rasanya lebih fit (karena sudah cukup tidur), tetap saja dengkul harus bekerja ekstra melewati tanjakan demi tanjakan bukit penyesalan. Hahaha, kami hanya bisa tertawa saja. Segala perjalanan harus dinikmati. Buat kami tidak ada istilah penyesalan, karena inilah impian. Menjelang pertengahan jalan, impian kami harus dibumbui cobaan. Hujan turun. Cukup deras. Menapaki tanjakan yang sudah hampir vertikal, tanah yang menjadi licin, serta beban berat di punggung membuat kami mau tak mau harus berpegangan pada akar, atau tanah agar tidak terpelanting jatuh. Saat ini kami harus melangkah dengan berhati-hati.

8-dihajar-badai-hujan-di-tanjakan-penyesalan
@anggabujana – Sudah Nyesal Tertimpa Hujan! 

Perjalanan terasa sangat lama. Namun akhirnya hujan reda saat kami menjelang tiba di Plawangan Sembalun. Kedinginan setelah diterpa hujan, kami menyeduh teh dan kopi. Namun kami memutuskan berkemah di area terdekat dengan tanjakan menuju puncak Rinjani, sekaligus memudahkan kami mengambil air, karena di sana lebih dekat dengan mata air.

7-tanjakan-penyesalan
@anggabujana – Hujan Reda Hati Lega

Berjalan 10 menit kami pun tiba di area yang sudah sangat ramai para pendaki, didominasi oleh bule. Senja sore itu sangat cantik! Seperti biasa, dokumentasi tak boleh dilewatkan, tentunya setelah tenda didirikan. Setelah makan malam, kami segera tidur. Kami akan memulai summit attack pukul 02.00 pagi.

10-plawangan-sembalun
@anggabujana – Ini Senjaku, Mana Senjamu?

Summit Attack

Pukul 01.30 tanggal 20 April kami berenam sudah bangun, langsung menyeduh teh dan mempersiapkan daypack. Kamera, powerbank, coklat, baterai cadangan dan air sudah masuk ke daypack masing-masing. Kami pun berdoa, memohon keselamatan. Pukul 02.00 kami memulai perjalanan.

Medan pertama adalah tanjakan berkerikil, serta melewati celah-celah tanah yang sempit layaknya gua. Oksigen yang tipis turut ambil andil. Beberapa kali kami istirahat untuk menarik nafas. Rupanya hanya kami saat itu rombongan yang berangkat pertama. Akhirnya tanjakan berakhir, dan kami tiba di gigir jurang Rinjani. Kami beristirahat agak lama di sini. Karena setelah ini medannya berpasir. Walaupun tidak seterjal tadi, namun treknya panjang. Pasir akan memperlambat gerakan dan menguras mental. Perjalanan pun kami lanjutkan, karena jika terlalu lama beristirahat udara terasa dingin menggigit.

Perjalanan kami lanjutkan. Lampu-lampu kota terlihat gemerlapan di bawah. Bahkan di kejauhan terlihat awan mendung, dengan petir yang menyambar. Baru kali ini aku merasakan sejajar dengan awan petir, walaupun berjauhan. Trek semakin menanjak, di kanan kiri jurang menganga. Sesekali kusorot dengan headlamp, dan cukup membuat bergidik.

Kami yang semula masih berombongan, menjadi terpecah. Aku terdepan bersama Zizi. Saat setengah perjalanan mulai terlihat cahaya dari headlamp membentuk ular di bawah. Pertanda sudah banyak yang memulai summit attack. Kami bertekad untuk sampai pertama. Sesekali kami beristirahat untuk sekadar berbagi air atau mengunyah coklat. William sudah tertinggal di belakangku dan Zizi.

Semakin lama jalur semakin terjal. Frekuensi istirahat pun bertambah. Bahkan aku sempat merayap di tanah karena sangat lelah. Pose saat beristirahat pun tidak duduk lagi, tapi terkapar, saking malasnya merubah posisi. Tekanan udara semakin tipis, lampu kota makin terlihat pendek di bawah, dan barisan headlamp yang mengular di bawah terlihat makin panjang.

Satu jam sebelum puncak kami berdua disalip seorang bule. Setengah bersumpah tidak sudi lagi dilewati, kami berdua memaksakan tenaga tersisa. Mesin ini telah meradang kilometer terakhir. Puncak telah terlihat. Sedikit lagi. Menjelang akhir, hanya mental yang tersisa. Dan kami memilikinya sekeras baja.

Akhirnya, setelah menempuh perjalanan sekitar tiga jam 25 menit, AKu dan Zizi tiba di puncak. Perasaan ini terasa sangat lega. Terbayar sudah. Seluruh waktu, tenaga, dan biaya terasa tidak sia-sia. Aku berteriak sekencangnya. Puas. Matahari perlahan bersinar. Dari kejauhan terlihat gili-gili yang ada di Lombok. Jika menghadap barat, maka terlihat siluet Gunung Agung di Bali.

11-mulai-sunrise
@anggabujana – Nyesal? Tidak!

Saat matahari sudah tinggi, barulah terjawab, tidak salah jika Rinjani dijuluki gunung tercantik. Aku sudah membuktikannya sendiri. Jauh di lubuk hati, selalu terngiang pertanyaan yang sama hingga kini: Kapan ke sini lagi?

DCIM109GOPRO
@anggabujana – Biar Kere Yang Penting Kece

Kami memuaskan diri dengan mengambil foto sebanyak-banyaknya, serta menikmati keindahan Danau Segara Anak di bawah. Rombongan lain satu-persatu tiba di puncak. Didominasi oleh mancanegara tentunya.

15-masih-puncak
@anggabujana – Tuhan Selalu Bersama Para Petualang Pemberani

Danau Segara Anak

Puas menikmati matahari di Puncak Tertinggi Lombok, kami pun turun. Seperti gunung berpasir lainnya macam Semeru, perjalanan turun jauh lebih enak, karena merosot di atas pasir. Kami menikmati perjalanan turun ini. Sesekali mengambil foto dengan latar belakang Segara Anak. Bahkan saat turun pun kami masih bertemu dengan rombongan yang akansummit ke puncak Dewi Anjani. Setiba di Plawangan Sembalun kami pun berkemas. Danau Segara Anak telah menanti enam gembel yang kelelahan pasca summit.

20-segara-anak-juga
@anggabujana – Turun Pun Disuguhi Yang Cantik – Cantik

Perjalanan menuju danau kembali “dihibur” orkestra hujan. Perjalanan menuju danau sangat terjal dan licin. Kami harus ekstra hati-hati. Sesekali berpegangan pada pembatas besi. Tidak jarang kami menemui bule yang akan menuju Plawangan Sembalun, dan setiap berpapasan kami selalu menanyakan hal yag sama. Berapa jam lagi menuju danau? Dan jawabannya bervariasi. Hahaha.

DCIM109GOPRO
@anggabujana – Calon Menantu Idaman

Pertengahan jalan hujan berhenti, trek pun sudah mendatar, tidak lagi terjal. Di kejauhan danau sudah terlihat.

Rinjani, Perjalanan Penuh Memori

Kemah terakhir kami adalah di Danau Segara Anak. Di sini kami benar-benar menikmati perjalanan. Setelah mendirikan tenda, aku, Zizi dan William mengisi stok air. Kami bahkan sempat berendam air panas. Otot yang tegang mengendur. Setelah makan malam kami pun tidur. Sangat pulas. Udara pun tidak terlalu dingin di danau. Sayup-sayup suara jangkrik menemani.

Paginya cuaca cerah. Gunung Barujari terlihat mengepulkan asap. Sarapan pagi ini adalah yang paling spesial, dengan menu ikan yang dipancing langsung dari Danau Segara Anak!

img_9573
@anggabujana – Chef Santos Memang Juara! 

Perjalanan Menyapa Kabut Rinjani akan sangat kami rindukan. Ini lebih dari sekadar perjalanan kekinian, tapi juga perjalanan tentang bagaimana bersepi dengan keheningan.

img_9568
@anggbujana – Terima Kasih Kawan, Tanpamu Aku Tak Akan Menganal Nilai Sebuah Perjalanan. 

Ditulis sendiri oleh kontributor kami  Putu Angga Bujana – Follow his instagram @anggabujana

Ingin tulisan Anda tayang di dimanakita.com dan kirim tulisan Anda ke tanya.dimanakita@gmail.com

 

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out /  Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out /  Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out /  Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out /  Change )

Connecting to %s